Rabu, 20 Mei 2009

Lagi-lagi HAM !

Pada hari Senin, 18 Mei 2009 Siti Khoiyaroh (4,5 tahun) menghembuskan nafas terakhir. Bocah kecil anak dari pedagang kaki lima Bakso akhirnya meninggal setelah seminggu dirawat di Ruma Sakit DR Soetomo Surabaya. Siti Khoiyarohh meninggal setelah pada tanggal 11 Mei 2009 tubuhnya tersiram kuah bakso mendidih akibat ibunya lari menghindari segerompolan petugas Satpol PP di kawasan Boulevard WTC. Tidak kurang dari 67% tubuh mungil bocah ini dipenuhi luka siraman kuas bakso mendidih, dari kepala, badan, tangan dan kaki.

Siti Khoiyaroh meninggal karena karena mengalami gagal organ multiple atau gagal multi organ setelah mengalami luka bakar 67 persen akibat arogansi Satpol PP di Jalan Boulevard WTC (Foto: Detik.com)

Selama seminggu pula Khoiyaroh merasa penderitaan sakit yang luar biasa dimana ia mengalami kegagalan fungsi sistem tubuh kompleks. Jantung, paru, dan ginjal korban tidak dapat berfungsi akibat luka bakar yang cukup serius. Pada hari naas itu, kebetulan Siti ikut ibunya, Ny. Sumarih, menjual bakso untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tempat yang dilarang oleh Pemkot Surabaya. Dan pada hari naas itu, Ayah Siti tidak menjual bakso dan digantikan oleh ibunya.

Sungguh sedih ketika saya melihat reka ulang animasi kronologi tersiramnya Siti oleh kuah bakso mendidih di salah satu stasiun TV. Ketakutan gerobak yang menjadi sumber mata pencahairan akan disita dan dihancurkan oleh satpol PP, maka Ibunya menaikan Hoiyaroh diatas gerobak dan barlari dari kejaran segerompolan satpol PP. Yang akhirnya, gerobak jatuh, Haiyaroh ikut jatuh, dan setelah jatuh tubuhnya tersiram kuah bakso mendidih. Dan begitu sedih juga luka yang dirasakan oleh kedua orang tua Siti. Atas kejadian ini pemkot Surabaya akan menanggung seluruh biaya perawatan rumah sakit dan memberikan santunan Rp 6 juta. Dan kepala komandan satpol PP sudah ditahan sebagai tersangka. Dan saya cukup bisa menerima tatkala secara spontan komandan satpol PP langsung meminta maaf dan merasa menyesal. Maaf dan penyesalan merupakan tindakan yang cukup terhormat bagi komandan satpol tatkala para pejabat publik terhormat jika mereka berbuat salah hampir tidak pernah mengaku bersalah apalagi minta maaf. Terima kasih minimal pak Satpol telah menunjukkan sikap bertanggungjawab.
GB
Jenazah Siti Khoiyaroh dibaringkan bersama boneka kesayangannya di RSU dr Soetomo, Surabya (18/5).
Foto: Detik.com

*******

Tentunya, uang 6 juta atau penahanan tersangka komandan satpol PP bukan merupakan solusi yang paling tepat untuk Siti dan kedua orang tuanya. Sudah berkali-kali kejadian ini terjadi, yang intinya kembali ke permasalahan paling mendasar yakni “dapur harus tetap berasap“. Mandegnya ekonomi di level bawah dan jalan pintas telah menjadi pilihan masyarakat miskin, terlebih minimnya kualitas dari pendidikan serta lemahnya peran pemerintah dalam memberdayakan potensi masyarakat kecil. Paradigma hidup di desa atau menjadi petani tidak bisa sejahtera harus diubah. Kedepan sangat diharapkan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah giat meningkatkan lapangan kerja di sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan serta infrastruktur pendukungnya.

Ketimpangan perlakuan antara masyarakat miskin dan penguasa sangatlah timpang. Pembangunan Mall-Mall didekat kota tentu akan mematikan usaha para pedagang kecil. Pendirian Buddha Bar yang jelas-jelas melanggar peraturan justru diizinkan. Para obligor, bankir yang melalukan penyelewangan dana rakyat justru dibiarkan bahkan disambut di istana. Ketika menghadapi masyarakat kecil yang tidak tertib, aparat menyambut dengan pentungan. Tapi ketika menghadapi penguasa yang korup, justru dengan mobil VIP. Oke..kita tidak usah lagi berbicara panjang lebar….

Yang penting, bagi Siti Khoiyaroh semoga do’a sebagian besar rakyat Indonesia mengiringmu agar tenang dan bahagia di sisi-Nya. Bagi ayah dan ibu Siti, kami berdo’a semoga tabah menghadapi ini, dan semoga semua terdekat dapat memberikan dorongan baik moril maupun materil. Dan bagi pemerintah beserta satpol PP, mari berbenah diri, dorong solusi ekonomi merakyat tidak sekadar rapat dan koalisi membangun pusat perbelanjaan hanya untuk pemilik modal semata. Mari untuk saling berintrofeksi diri dan saling berbenah diri. Semoga kejadian seperti kericuhan dan “stempel ” menakutkan rakyat kecil terhadap satpol PP akan tereliminasi. Dan juga baik korban maupun satpol PP sebenarnya juga “korban” dari “sistem”.

Semoga….semoga…
Selamat Jalan Dik..Khoiyaroh

0 komentar:

photo

GlitterFly.com - Customize and Share your images